Tiga pilar utama konsep sekolah digital adalah komputer, internet dan content.
Kebijakan penyediaan Tablet-PC/ Transformasi Sekolah Digital bagi murid-murid tahun ini , merupakan petunjuk kuat bahwa semua Sekolah akan memasuki era sekolah digital. Apakah sekolah digital lebih unggul dibandingkan sekolah tradisional ? Suatu pertanyaan menantang yang tergantung dari definisi “sekolah digital” itu sendiri, salah satunya adalah “segala usaha untuk mengubah sumber daya sekolah yang ada ke dalam bentuk digital berbasis internet , melalui alat atau instrumen yang canggih, sedemikian rupa sehingga kehidupan nyata sekolah dapat ditingkatkan melebihi waktu maupun ruang yang ada”. Sumber daya itu meliputi semua informasi di lingkungan sekolah (jadwal transportasi yang tersedia, perbankan, kantin, ketersediaan fasilitas), sumber daya material (buku, materi/modul pembelajaran) sampai dengan aktivitas sekolah (proses belajar dan mengajar, manajemen dan pelayanan administrasi). Jika demikian halnya maka jelaslah bahwa sekolah digital akan lebih unggul jika dibandingkan dengan yang tradisional. Bayangkan, perpustakaan dapat diakses malam hari langsung dari rumah, tugas dikumpulkan melalui email, pengumuman sekolah diakses tanpa harus ke sekolah, dan sebagainya.
Teknologi Informasi (TI) yang merupakan tulang punggung sekolah digital, didukung oleh tiga komponen utama : Computer, Communication dan Content. Tentulah yang dimaksud dengan Communication di atas adalah jaringan internet. Dengan adanya jalinan kerjasama suatu sekolah dengan tiga vendor raksasa teknologi yaitu Microsoft-Intel-Toshiba maka sudah diperoleh jaminan bahwa dua komponen pertama di atas pasti akan berfungsi sebagaimana dimaksud, sedangkan komponen Content tidak sepenuhnya dapat dijamin keberhasilannya karena tergantung dari manusia-manusia pengelola maupun pemakainya.
Pemakai statis adalah para operator komputer, yang mengoperasikan komputer sebagai bagian dari prosedur kerjanya yang bersifat rutinitas. Kesiapan pemakai statis dapat segera diusahakan, misalnya dengan training-training yang intensif maupun akibat kebiasaan mengerjakan tugasnya secara rutin dan terkontrol, sehingga pada akhirnya rutinitas pekerjaan tersebut dapat berproses dengan lancar. Pemakai statis kebanyakan terdiri dari karyawan staff (manajemen, pelayanan dan administrasi) yang bertugas memasukkan data input berdasarkan format yang telah ditentukan, maupun pengetikan surat-surat berdasarkan permintaan tertentu yang formatnya sudah baku dan sebagainya. Berkaitan dengan baku, hal itu mudah dipahami karena terkait dengan sifat konsisten, stabil dan tidak sering berubah-ubah.
Pemakai dinamis, suatu istilah yang diberikan kepada sekelompok atau perseorangan yang dalam kapasitasnya mempunyai kewenangan dan mampu untuk secara kreatif membuat terobosan baru di luar rutinitasnya. Pemakai dinamis membuat atau mengembangkan content sedemikian rupa sehingga content sekolah digital tersebut menjadi suatu yang bersifat dinamis, berubah, menjadi sesuatu yang selalu tumbuh dan berkembang, dan menjadi hidup. Pemakai dinamis diharapkan berasal dari staf pengajar atau guru dan selanjutnya akan berimbas pada anak didiknya.
Pembelajaran di Era Digital
Perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi mengubah cara pandang , cara kerja dan sekaligus implementasi dalam bidang pembelajaran , hal tersebut ditandai dengan munculnya istilah-istilah baru seperti eBook, e-learning , cyber school. Akar kata cyber adalah cybernetics, yang artinya tentang “cara untuk mengendalikan (robot) dari jarak jauh”, jadi kata cyber berkaitan dengan “pengendalian” dan “jarak jauh”. Oleh karena itu cyber school terkait dengan hal lain seperti distance learning, cyber schools, virtual school, e-education, e-classes dan bentuk kelas jarak jauh lainnya yang memberikan penghargaan atau pujian kepada pesertanya. Berbeda dengan konsep pembelajaran jarak jauh tradisional yang menggunakan korespondensi (surat-menyurat), maka cyber school memakai komputer dan internet untuk melaksanakan kegiatan atau fungsinya. Jadi, interaksi yang dapat diberikan tidak terbatas pada materi yang pasif (surat), tetapi juga materi yang bersifat interaktif, baik melalui surat-menyurat (email / chating), video dan telekonferensi, maupun bentuk-bentuk lain yang layaknya ada pada kegiatan sekolah tradisional. Oleh karena itu , cyber school populer juga disebut sebagai virtual school.
Untuk beberapa lama, konsep virtual school menjadi fokus yang menarik untuk dibahas dan diterapkan , dan menjadi saingan dari sekolah tradisional. Pelajar dapat belajar di mana saja dan kapan saja sesuai yang diinginkan. Ahli-ahli dari berbagai belahan dunia dapat saling menghasilkan materi pendidikan dalam bentuk digital dan didistribusikan via internet. Aktivitas pembelajaran didukung oleh telekonferensi berbasis internet, sehingga pengajar menjawab pertanyaan, mendiskusikan materi dan membantu memecahkan permasalahan tanpa harus datang ke sekolah.
Dalam kenyataan cyber school belum bisa menggantikan peranan sekolah tradisional yang mempunyai keunggulan dapat mewadahi terjadinya interaksi antar individu satu dengan yang lain, sehingga terjadilah proses benchmarking, terjadinya kompetisi, yang akhirnya terjadilah transformasi tidak hanya pada pengetahuannya melainkan juga mental pribadi pelajar/ anak didik itu sendiri. Oleh karena itu, timbul keinginan untuk mewujudkan fasilitas pendidikan yang dapat menggabungkan keunggulan dari konsep tradisional dan modern (cyber school), bahkan menggabungkan trend yang saat ini sedang berkembang yaitu mobile (tidak tergantung tempat / di mana saja) sehingga menjadi sesuatu yang baru yang disebut notebook-school.
Dalam notebook - school maka fokusnya berubah dari virtual school ke digital school. Proses selanjutnya dalam mengisi sekolah digital adalah mengatasi perbedaan yang terjadi antara dunia nyata dan dunia virtuil (cyber) untuk menghasilkan lulusan yang berkompetensi sesuai bidangnya. Jangan sampai lulusannya nanti mempunyai kemampuan yang virtuil (tidak nyata).
Model Pembelajaran On-Line
Ada dua model pengembangan materi pembelajaran on-line. Pada model pertama, Guru membangun materi dengan komputernya sendiri dengan bagian-bagian materi secara utuh. Setiap bagian bisa dibaca dan dipelajari secara off-line dengan cara download dari internet atau dari rekaman CD yang dibagikan.
Pada model kedua, Guru membangun materi pembelajaran dengan fasilitas pengembangan materi secara on-line. Mata Pelajaran/ materi dimasukkan ke sistem sepotong demi sepotong yang terangkai secara utuh di sistem. Siswa hanya bisa mengikuti pendidikan dan pengajaran secara utuh melalui sistem yang sama secara on-line. Dengan model ini, distribusi off-line hanya bisa dilakukan setelah pengembangan materi belajar selesai seluruhnya atau bab per bab.
Sistem pembelajaran on-line yang paling rumit adalah penyelenggaraan ujian. Umumnya ujian masih harus dilakukan secara tradisionil, belum ditemukan cara pelaksanaan ujian yang efektif. Sifat ujian adalah untuk menguji siswa secara individu sehingga pemakaian jaringan internet akan memberi kemudahan pada siswa untuk berkomunikasi satu sama lain sehingga hasil evalusi dapat menjadi bisa. Namun, ujian on-line dapat digunakan kalau bentuk ujian tersebut adalah penyusunan makalah dengan suatu tema yang ditetapkan pengajar. Akan lebih menarik jika tema itu dapat bervariasi tiap siswa atau dalam setiap kelompok yang berbeda. Bentuk ujian seperti ini tentulah ujian take home dan bukan ujian di kelas.
Komponen Content pada Sekolah Digital
Komponen komputer dan internet adalah produk luar-negeri, yang sistemnya dipilih dan dibeli untuk digunakan sebagai infrastruktur sekolah digital. Siapa saja bisa memilikinya! Jadi, yang membedakan sekolah digital satu dengan yang lain adalah pada komponen content , yang sifatnya spesifik dan merupakan karakteristik dari komunitas sekolahan itu. Komponen content melekat pada setiap fasilitas pembelajaran yang diaktifkan di sekolah digital tersebut, tidak bisa terpisah dari gurunya, selaku penanggung jawab materi pembelajaran.
Produktivitas komponen content adalah mirip dengan produktivitas penulisan intelektual. Padahal telah diketahui secara umum bahwa produktivas penulisan guru masih jarang, yang diindikasikan dengan adanya insentip dari institusi bagi tulisan yang memenuhi kriteria tertentu, misalnya dimuat di jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional.
Bagaimana pun sekolah digital telah dimulai, sehingga komponen content harus dibuat. Siapa yang harus bertanggung jawab mengenai soal itu ? Bukan vendor penyedia teknologi, bukan kepala sekolah dan jajarannya tetapi guru-guru itu sendiri. Guru bertanggung jawab minimal pada content materi pembelajaran yang diberikan di kelas.